MENOLAK IKHWAN…

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;}

Image

 

Perempuan itu makhluk yang susah dipahami. Percayalah, bahkan terkadang saya tidak bisa menterjemahkan apa yang ada dalam hati saya. Terkadang begitu susahnya sekedar ingin tahu apa sebenarnya keinginan terdalam di hati ini.

Saya ingat sebuah becandaan jaman kuliah saat teman saya menggenapkan usianya di usia 20 tahun,”welcome to community of 20th, jalan menuju umur 20 tahun tu rasanya lamaaaaa banget tapi setelah usia 20 tahun itu rasanya waktu berjalan begitu cepatnya.” Dulu saya hanya tertawa mendengar becandaan ini, dan kini pun saya masih tertawa-tawa kecil mengingatnya.

Jaman SMA adalah jaman munculnya banyak buku-buku yang mengompori nikah muda, mulai dari Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahannya Ustad Salim hingga buku-bukunya Ustadz Faudzil Adhim seperti Saatnya Untuk Menikah, Nikmatnya Pernikahan Dini, Kupinang Kau dengan Hamdalah, dan lain-lain. Ahhh bahkan waktu itu saya begitu berpikiran sempit, ada pandangan negative yang tanpa sengaja terjustifikasi pada akhwat dan ikhwan yang sudah berumur namun belum juga menikah. Astaghfirullah…

Rencana hidup saya pun sederhana, setelah lulus kuliah, saya kerja sekitar setengah tahun lah lalu menikah. Mungkin memang sudah bukan nikah muda lagi namanya tapi saya memang ingin menyegerakan menikah.

Waktu berjalan tahun demi tahun, sepertinya setelah umur 20 tahun memang waktu terasa berjalan begitu cepatnya yaa ^^ tau-tau saya sekarang sudah 26 tahun. Tahun depan saya sudah 27 tahun.

Dulu, saya heran bagaimana teman-teman saya menolak ikhwan-ikhwan yang datang sementara saya tahu betul teman-teman akhwat saya ini benar-benar ingin menyegerakan menikah. Tapi begitulah cara Allah mengajarkan kita menjadi bijaksana. Saya tak perlu lagi jawaban dari mereka karena pada akhirnya saya sendiri merasakan ketika pada akhirnya menolak ikhwan-ikhwan yang datang dengan niat tulus untuk menggenapkan separuh agamanya.

Ikhwan pertama yang datang adalah teman satu organisasi dengan saya, saya cukup mengenalnya sebagai ikhwan baik yang dengan rela membantu setiap kesulitan saudaranya. Tipikal ikhwan yang sangat mengutamakan birul walidain, mengutamakan sholat dengan ibadah yang patut diacungi jempol. Saya hanya terdiam sejenak saat teman saya menyodorkan biodatanya untuk saya pelajari. Bertahun-tahun saya mengenalnya, saya tahu karakternya, saya tahu kebaikan-kebaikannya, saya tau betapa bagus ibadahnya… bertanyalah pada saya mengapa pada akhirnya saya menolaknya? Saya punya kesempatan seminggu untuk istiqoroh tapi di hari ke 3 saya sudah memeutuskan untuk tidak melanjutkan proses ta’aruf dengan beliau. Bertanyalah pada saya mengapa saya menolaknya? Ahhh… saya pun tidak tahu mengapa saya menolaknya. Apakah setiap keputusan harus punya alasan? Saya juga tidak tahu…

Saya hanya merasa tidak seharusnya saya bersama beliau. Saya mencoba meraba-raba apa alasan dibalik keputusan saya kala itu. Finansial. Ya mungkin, hidup di tempat saya tinggal sekarang memang butuh biaya yang tidak sedikit, dan kondisi finansial beliau yang masih belum stabil mungkin menjadi alasan alam bawah sadar saya untuk menolaknya. Mungkin ada yang akan mencap saya sebagai seorang yang matre, tidak percaya janji Allah bahwa menikah akan melancarkan rejeki, menolak orang sholeh, dll. Ahh…ternyata saya hanya akhwat macam ini.

Jiwa. Kenyamanan.

Bolehkah saya menolak karena alasan ini, karna entah mengapa saya terkadang kurang nyaman dalam berkomunikasi dengan beliaunya. Jujur, ada rasa bersalah saat saya menolak beliau. Saya takut Allah tidah ridho dengan keputusan saya ini, menolak orang sholeh. Robbiii… maafkan hamba-Mu ini… saya merasa bersalah hingga datanglah suatu hari beliau datang dengan undangan pernikahan beliau yang hanya berjarak sekitar 1 bulan setelah saya menolaknya.

Maka rasa bersalah itu kemudian menjadi sepenggal syukur penuh keharuan. Untunglah saya tidak membuat keputusan terlalu lama. Keputusan kita bisa jadi adalah kunci bagi terbukanya pintu takdir orang lain. Saya melihat akhwat yang bersanding dengan beliau saat ini, hanya satu yang ingin saya ucapkan,”akhwat sholeh, cocok untuk beliau”

Baarakallah teman ^_______^ percayalah saya ikut bahagia…

 

Di lain kesempatan, saya pernah akan dijodohkan dengan seorang ikhwan, ikhwan hanif yang sederhana, s2, saya hanya tersenyum… lalu entah bagaimana ceritanya saya bertemu dengan ikhwan ini. Singkat cerita, perjodohan ini pun gagal. Lalu beberapa bulan kemudian saya pun tahu beliau sudah menikah. Percayalah, saya bersyukur dengan pernikahan beliau, tidak ada kecewa di hati saya. Hanya entah mengapa teman saya ini tampaknya merasa kasihan pada saya karna pada akhirnya saya ditinggal menikah beliau dengan orang lain. Jodoh kan tidak akan tertukar jadi saya pikir tidak alasan juga untuk mengasihani saya.

Jiwa. Ada apa dengan jiwa ini?

 

Lalu hadirlah ikhwan berikutnya, orang yang pernah saya kenal beberapa waktu yang lalu, tiba-tiba menyatakan keinginannya untuk menikah dengan saya dalam sebuah pertemuan. Ikhwan sholeh, finansial yang cukup stabil, tinggal di kota yang sama.

Jiwaku, wahai hati ada apa dengamu?

Kali ini pun saya menolaknya. Bolehkah saya beralasan tentang akhlak kali ini?

 

Cukuplah cerita-cerita di atas dan silahkan menilai saya. Pasti ada yang bilang bahwa saya terlalu pemilih. Mungkin aka nada yang berceletuk bahwa kriteria saya terlalu tinggi. Ahhh saya tidak bisa menjawabnya.

“Jiwa. Menikah itu tentang kenyamanan jiwamu jeng”, kata seorang teman saya yang pernah gagal dalam berumah tangga.

Lalu suatu saat teman saya member tahu sebuah quote dari Tere Liye, katanya
Hei, menikah itu bukan lomba lari, yang ada definisi siapa cepat, siapa lelet larinya. Menikah itu juga bukan lomba makan kerupuk, yang menang adalah yang paling cepat ngabisin kerupuk, lantas semua orang berseru hore.

Menikah itu adalah misteri Tuhan. Jadi tidak ada istilah terlambat menikah. Pun tidak ada juga istilah pernikahan dini. Selalu yakini, jika Tuhan sudah menentukan, maka akan tiba momen terbaiknya, di waktu paling pas, tempat paling tepat. Abaikan saja orang2 yang memang cerewet mulutnya bilang “gadis tua, bujag lapuk”, atau nyinyir bilang, “kecil2 kok sudah menikah”.

 

Entah ini menjadi semacam alibi atau pembenaran bagi saya. Tapi saya sangat menyukainya…

Saya percaya Allah, saya percaya segala sesuatunya sudah diatur-Nya dalam scenario yang teramat indah. Maka seharusnya taka da alasan bagi saya untuk bergalau-galau ria atau bermurung durja terlalu lama.. heheee… tapi ya dasar akhwat, ada kalanya sedang bijak namun ada kalanya juga sedang galau. Akhwat kan juga manusia yang punya hati ^^ hehee…

Lalu orang-orang akan bertanya,”lha udah masukin biodata belum?” entah ini sekedar basa-basi atau pertanyaan retoris yang tak perlu dijawab.

Sekali lagi, saya percaya Allah yang akan mengatur segalanya, jadi kalau sampai saat ini saya belum juga ketemu dengan si doi maka saya percaya diri saya ini lah yang harus diperbaiki. Bukan salah murrobi, bukan salah BKKBS, apalagi salah temen-temen saya yang sudah menikah duluan… :p

Saya setuju dengan kata-kata Ustadz Salim,”mencari jodoh terbaik itu adalah dengan terus-menerus memperbaiki diri”

Image

Jadi…

Selamat memperbaiki diri,

Ghibahnya diilangin, jaga lisan neng

Tontonannya dijaga neng, hati-hati sama yang melenakan n membuat lupa ma Allah

Sholat wajibmu dijaga yaaaa…

Ibadah sunnah dan tilawahmu sebagai bukti kalau kau cinta sama Allah n Rasulullah..

Semoga berkah ^_________^

#sebuahNasehatUntukDiriSendiri

SUBUHAN…

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Image

 

Allah itu tidak pernah salah, percayalah..

Kalau di suatu tempat perantauan Anda tiba-tiba bertemu dengan seseorang yang entah mengapa Anda langsung merasa nyaman dengannya, mungkin seperti itulah salah satu cerita indah yang diatur Allah untuk anda.

Bertemu seseorang yang sederhana yang mengajak untuk kembali menghidupkan setiap malam, menapaki jalan jalan becek di antara embun pagi saat subuhan, bahkan yang dalam heningnya dia telah menamatkan lembar demi lembar mushafnya..

Maka percayalah,

Allah tidak pernah salah ^_____^

Subuhan, “ayo mbak kita subuhan di masjid” itu sepenggal kalimat yang mengawali subuhan subuhan kami di masjid. Masjid yang memang hanya berjarak beberapa meter dari kost kami. Yang tiap kali adzan maka kami tak mungkin tak mendengarnya.

Subuhan yang sama, dengan imam yang tak pernah ganti, si bapak nafas panjang…

Subuhan yang sama, bersama shaff ibuk-ibuk yang kami mulai hafal satu demi satu wajahnya.

Subuhan yang sama, dengan 2 orang kakak beradik keturunan arab yang selalu datang

Subuhan yang sama, dengan bapak bersandal bata yang selalu balik badan kalau mau masuk masjid

Subuhan yang sama dengan bapak-bapak bermotor astrea yang wajahnya mirip ust.Khudori

Namun ternyata ada kisah-kisah berbeda yang ingin diperlihatkan Allah padaku,

 

Baru akhir-akhir ini saya menyadari bahkan subuhan yang bisa kami laksanakan tiap hari adalah anugerah yang luar biasa dari Allah. Tiap kali melangkah keluar kost, di sebrang tikungan menuju masjid itu pasti selalu ada gerobak bolang baling dan cakwe yang sudah memulai aktifitasnya. Adonan yang sudah tertata di atas meja, minyak yang sedang dipanaskan dalam wajan super besar hingga sisa-sisa bolang baling dan cakwe yang belum laku di hari sebelumnya.

Di lain hari, di tengah gerimis kecil-kecil, tiba-tiba melintas seorang bapak-bapak penjual kerupuk yang memenggul 2 bungkus besar kerupuknya, tepat saat kami baru melangkah keluar dari pintu kost. Di hari selanjutnya pun kami masih melihatnya sambil berlari-lari kecil, mungkin sedang berkejar-kejaran dengan sang waktu.

Lalu hari ini, tepat saat kami akan menyeberang ke masjid, ada bapak-bapak penjual sayur keliling yang memacu motornya dengan kecepatan tinggi.

Di atas semua perasaan yang muncul kala itu, maka syukur adalah rasa yang ada di penghujung hati. Bersyukur karena tidak harus berlomba-lomba dengan waktu untuk bisa subuhan dengan nyaman. Bersyukur karena masih bisa menikmati isturahat yang hangat sebelum melangkah melihat dunia..

Subuhan yang sama, masih dengan imam yang sama, shaff ibuk-ibuk yang sama, yang bahkan kami mulai tau manakah yang pake cium tangan dan mana yang cukup salaman saja, masih dengan 2 kakak beradik keturunan arab, masih dengan bapak bersandal bata dan bapak dengan tampang kayak ust.Khudori…

Subuhan yang sama, hanya saja ternyata ada kisah yang berbeda di setiap harinya…

Maka di penghujung desember yang tinggal menghitung hari ini, mari meningkatkan syukur kita. Syukur untuk hal-hal yang tampaknya begitu sederhana, syukur karena masih diizinkan Allah bisa subuhan dengan ringan di sebuah masjid yang tak pernah sepi. Bersyukur karena masih bisa menikmati tiap Al Fatihah sang Imam tanpa harus terburu-buru waktu. Bersyukur karna ternyata tidak setiap orang bisa mendapatkan kemudahan seperti ini.

Semoga setiap orang yang sdang mengusahakan rejeki yang halal di sela-sela waktu subuh yang berkah pun akan mendapatkan keberkahan dari Allah.

Amin ^^

Bahagia itu sederhana,

Bahagia itu ada pada rasa syukur, maka saat kita bersyukur, disanalah letak kebahagiaan ^^

hari ini saya izin dari sebuah ta’limat, demi dateng ke walimah temen..

Pandanglah saya dari sudut pandang orang yg memberi ta’limat, maka saya akan terlihat sebagai seorang yang sangat ndablek, tapi saya berhak memiliki alasan untk stiap pilihan yang saya ambil dlm hidup saya kan?

Mari mencoba memandang dari sudut pandang saya, saya telah berjanji untk hadir di walimah saudari saya ini, di luar kota, sewa mobil bareng2.. Bisalah saya membatalkan, tapi bukankah saya jadi orang yang tdk amanah dengan itu..

Saya selalu berusaha menepati apa yang saya katakan, kalaulah memang sdh ada janji maka saya akan mengagendakan kegiatan saya di waktu yang lain. Hari ini seorang teman saya entah dimana, di saat sebelumnya kami sdh saling sepakat untk punya agenda bersama. Oka, dia ada agenda lain…

Begitulah, saya tau betapa tidak enaknya di’ingkari’ janjinya oleh seseorang, maka saya berusaha menjalankan apa yang saya katakan.

Okelah, saya terkadang juga lalai, maka mohon ingatkan saya Ya Allah bila hamba Mu ini suatu saat lalai dengan apa2 yang telah dikatakannya…

I’ll do my best for be a amanah person…

Bismillah…

Mencintai Dalam Diam

Ya…

Aku memang memutuskan untuk mencintai dalam diam.

Ada yang salahkah?

Ada yang salahkah bila aku ingin cukup Allah saja yang tau?

 

Bukankah begitu pula yang dilakukan Bunda Fatimah dan Ali.

Mencintai dalam diam, lalu Allah yang mengatur jalannya..

 

Bukankah Allah telah menuliskan dalam Lauf Mahfuz Nya, tentang siapakah hamba-hamba Nya yang berpasangan?

 

Seperti kata Ustadz Salim,“Jodoh kita sudah tertulis di Lauhul Mahfuzh. Mau diambil dari jalan halal ataukah haram, dapatnya yang itu juga. Yang beda, rasa berkahnya ;)”

 

Kata seorang teman,”Udahlah mbak…kita titipkan aja rasa ini pada Allah, nanti kalau emang jodoh kan pasti dipertemukan sama Allah. Ikhtiar mencari jodoh itu ke atas mbak, bukan ke samping”

 

“Cinta sejati selalu menemukan jalan, Borno. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan”

 

(Tere Liye, Kau AKu dan Sepucuk Angpau Merah)

 

Kalau hari ini saya masih bertanya,”bagaimakah mengikhtiarkan jodoh bagi seorang akhwat?” maka sesungguhnya jauh-jauh hari saya telah menemukan jabawannya, bagi seorang akhwat, cara mengikhtiarkan jodoh terbaik adalah dengan terus menerus memperbaiki diri di tiap harinya, maka saat Allah melihat kita tiba di saat yang tepat, Allah akan mendatangkannya dengan mudah.

 

I just wanna believe that way…

 

Bismillah…

Biarlah ini menjadi pilihanku, kalau memang jodoh, Allah akan mengatur jalanNya, tapi kalaupun bukan jodoh, semoga dia mendapatkan jodoh terbaiknya, dan aku pun pasti mendapatkan orang yang paling tepat untukku.

 

Manusia itu hakekatnya makhluk yang sangat amat sedikit pengetahuannya, Allah lah yang Maha Mengetahui.

 

Terakhir, dari seorang Fahd Djibran,

“Tuhan, semoga Engkau mendekatkan semua manusia pada jodohnya, semua rahasia perasaan pada jawabannya. Engkaulah yang mengatur segalanya, dan engkaulah yang mempertemukan dan mempersatukan semua manusia dengan pasangannya. Di atas semua keinginan dan kehendakku, aku mempercayakan semuanya pada pilihan-Mu : Dan semoga semua perasaan baik-baik saja.

 

……….di atas semua cerita, jodoh bukan cuma soal perasaan. Semoga Allah menyembuhkan semua hati yang terluka…

 

Saya hanya sedang berusaha, mempercayakan segala sesuatunya pada Allah.. tempat jiwa ini bermuara…Image

Surat Kecil untuk Tuhan-The Cancer Adrift

Bismillahhirrohmanirrohim…

 

Surat Kecil Untuk Tuhan…

Image

Tau-tau ada buku itu di rumah, mungkin karena sekarang kanker baru jadi tranding topic di rumahku kali ya… heheee… yang tambah bikin pengen baca ni sebenere karena tulisan “Ribuan air mata telah berjatuhan setelah membaca kisah ini”

Akhirnya kubaca juga, walau tak sampai ada air mata yang mengalir. Aku berusaha hisup dalam dunia (almhmah) Gita Sesa Wanda Cantika. Subhanallah anak ini…

Aku membayangkan dirinya yang liat Buku Harian Nayla dan seperti menghitung hari detik-detik kehidupannya seperti dalam film yang sedang dia tonton.

Image

Keke (Gita Sesa Wanda Cantika) yang setelah menjalani serangkaian proses khemoterapy dan radiotherapy hingga dinyatakan sembuh. ^^ lalu ingatanku pun melayang pada pasien2 leukemia anakku yang dulu kujumpai saat praktek di bangsal anak Sardjito. Ada seorang anak perempuan, mungkin usianya sekitar 8 atau 9 tahun, dia msuk bangsal saat pemeriksaan sumsum tulang untuk memastikan masih adakah sel kanker yang tersisa dari serangkaian khemoterapy yang dijalaninya. Lalu beberapa hari kemudian aku bertemu lagi saat dia periksa di Poli anak, ibuknya tampak sangat bahagia,”Alhamdulillah mbak, dah sembuh, sel kankernya udah habis” ^___________^ huwaaaa….aku ikut bahagia lah, bahagia banget! Ibuknya membawa tempat makan berisi ager manis yang sengaja dibuat untuk teman seperjuangannya yang saat ini masih harus menjalani hari2 khemoterapy di bangsal anak.

Selesai membaca Surat Kecil untuk Tuhan ini, tiba2 aku ingat mereka, aku ingat si anak perempuan putih , ndut manis ini. Keke kambuh lagi setelah dinyatakan dirinya bebas dari kanker. Lalu hingga akhirnya Keke harus menjalani hari-harinya bersama kanker yang bersemayam di tubuhnya hingga Allah memanggilnya….

Innalillahi wa inna illaihi rojiun…

Entah kenapa, tatkala membaca buku ini malah yang terlintas di bayanganku adalah pasien-pasien yang pernah kutemui di Sardjito. Ada Dini si anak 2 tahun, ndut imut, manis… ^^ yang terakhir aku ketemu dengannya, sang ibu bercerita dengan senyum yang sangat teramat dipaksakan,”khemo-nya nggak berhasil mbak, nggak tau ini musti gimana lagi”. Robbiiii… Dini tetep aja maen dengan santainya…

Lalu ada Bambang, usianya sekitar 5 tahun yang juga masih berjuang melawan leukemianya, bersama ibuknya yang datang dari Kalimantan, demi sang anak…

Lalau enah siapa namanya yang menangis dengan kerasnya, ibuknya yang berusaha menenangkan, tapi tetap saja hasil lab tak bisa berbohong,”jumlah sel kankernya malah bertambah”. Robbiii…

Ada kesedihan disana, ada kekecewaan, ada juga keikhlasan…pada mereka lah kita harus belajar arti sebuah ketegaran dan perjuangan ^^ aku tak tahu bagaimana kabar kalian semua adik2ku, semoga Allah senantiasa memberi yang terbaik untuk kalian…

Kangan sama senyum mereka,

Kebahagiaan saat bisa makan sate dengan nikmatnya,

Kebahagiaan saat bisa satu ruangan dengan teman yang sama-sama dikhemoterapy..

Kebahagiaan2 sederhana mereka..

^_________________^

Next book,

The Cancer Adrift,

Image

Buku buatan sang penderita kanker paru, Takahiro Okuyama..

Buku yang sangat santai, mungkin saat anda membacanya, rasanya kayak baca Koran di pagi hari. Datar… itulah kesan yang tersirat dari bukunya…

Si penulis bilang, bukan di buku ini saya akan berkeluh-kesah, untuk apa?

Ya….jaadilah sebuah buku yang ringan, dengan ringannya di bercerita saat berliter-liter cairan harus dikeluarkan dari selaput parunya, saat ada caira menumpuk di selaput jantungnya sehingga dia bisa kena serangan jantung sewaktu-waktu. Saat dia menjalani khemoterapy yang tak ubahnya seperti bercerita bahwa dia harus minum 4 liter air dalam 8 jam…

Gaya cerita yang sungguh malah membuat saya terdiam, jadi dia kena kanker paru dan seakan bercerita bahwa dia hanya terkena flu, “hei boi, gw kena kanker lho”

Dia yang tampak hidup begitu normal dengan kanker parunya. Tetap bekerja seperti biasa, tetap dikejar deadline dari tulisan-tulisan yang harus dia selesaikan, di antara pasien-pasien lain, diantara dinding rumah sakit, dan sedikit sinar matahari yang sangat dirindukannya,

Entah akan ada ending seperti apa, karna toh sesungguhnya belum ada akhir untuk kisah ini, dia yang harus kembali menjalani terapy antikankernya, dia yang menjalani khemoterapy tapi malah membuat kekebalan tubuhnya menurun drastis,

“tulisan ini kubuat di atas ranjang rumah sakit setelah aku diopname lagi. Untuk menulis epilog dari catatan melawan penyakit, menurutku tak ada tempat lain lagi yang lebih cocok. Diantara pembaca yang membaca sampai akhir, mungkin ada yang merasa tidak puas dengan bagian akhir yang kurang menarik. Memang kalau aku sembuh atau aku mati, mungkin akan lebih dramatis. Tapi nyatanya, penyakitku tak sembuh, aku disuruh opname ulang, ditambah lagi kondisi tubuhku berantakan”

 

Semoga setiap kisah ini akan membuat kita manjadi lebih bersyukur setiap harinya ^_______^

Harapan itu akan selalu ada Teman ^^

Image

 

Jum’at, 29 April 2011

Jum’at barokah teman, yahh aku selalu suka hari Jum’at ^^

 

Yeahh sampai hari ini, ICU makin luar biasa teman, makin membuatku harus memaksa otakku untuk memahami apa itu ventilator beserta tetek-bengeknya, test lang, konektor,flow sensor, servo-i, airbarr.. hah! Mereka msih saja menari-nari di otakku tanpa bisa kupegang ekornya, hayhayyy… tapi justru itulah tantangannya, itulah sensasinya..

 

Dan ICU akan tetap menjadi tumpuan harapan akhir usaha manusia atas garis-garis takdir yang telah direncanakan oleh Allah. Seperti salah seorang pasieku, dengan darah yang sudah membasahi sekujur tubuhnya, bed yang berbau anyir darah, stelsel-stelsel darah yang keluar dari anusnya, hb yang entah berapa, semua orang menatap hampa pada pasien ini, dokter bedah yang tampak kebingungan karna ruang oK yang belum jelas kepastiannya, dokter2 anestesi yang mulai mengerutkan dahinya sambil bersiap-siap berparade dengan malaikat maut. Yahh…hari itu semua orang berharap, berharap semoga ini bukanlah saatnya, berharap semoga sang pasien masih bisa berkumpul dengan keluarganya tercinta. Entah apa yang ada di benak orang2 yang saat itu mengelilingi pasien itu. Mungkin ada yang berdoa sambil terus berharap akan sebuah keajaiban, mungkin ada yang berdoa agar Allah mengakhirkan penderitaan pasien ini dengan khusnul khotimah, yahh…entah apa yang terpikir di benak makhluk2 yang berharap-harap cemas sambil standby di samping pasien ini. OK siap, ICU memastikan, yes or no and we’ll move. Monitor transport disiapkan, tiang infus ikut dijalankan karna tlah terisi penuh syringe pump dengan berbagai macam obat penopang kehidupan itu. Sang dokter anestesi berjibaku membagging dalam perjalanan ICU ke OK. Sebuah perjalanan singkat yang pasti terasa sangat melelahkan karna saat ini mereka sedang berpacu dengan malaikat maut. Tapi ini bukan saatnya menoleh mengintip keluar jendela, karna setiap nyawa itu sangat berharga teman!

 

Akhirnya berakhir juga sebuah scene drama kehidupan ini, sang pasien kembali ke ICU. Dan lihatlah keesokan harinya, sang istri yang tampak setia mendampingi suaminya, mencoba menerjemahkan tiap kata yang dilafaskan sang suami, selang ET yang masih setia bertengger dalam mulutnya itu tlah menghalangi komunikasi antar 2 insan yang saling mencintai itu. Tapi biarlah, saatnya hati yang bicara bila suara tak lagi bisa menyapa, sebuah tatapan rasanya cukup melegakan hati yang sedang tersapu sang gelombang kerinduan. Sang istri tetap tampak khawatir walau bibrinya tlah mampu menampakkan senyum kelega’an. Dan sang istri yang tak lelah-lelahnya berkata, “mbak, titip suami saya ya, tolong dibasahi bibirnya kalau merasa haus. Tolong ya mbak, saya tiitp suami saya, maaf merepotkan. Mbak, saya titip suami saya ya…” yahhh begitu sang istri mengulang-ulang tiap katanya… sebuah ungkapan kekhawatiran akan sosok yang pasti yang pasti sangat dicintainya itu,,, yeah… beliau hanya seorang istri yang sangat mengkhawatirkan suaminya ^^

 

The ends of story in ICU,

Sang pasien akhirnya bisa kembali ke bangsal,

Moment2 paling membahagiakan bagi para perawat ICU, mengantar pasien ke bangsal ^^

Dan di pagi jelang kepulangan pasien itu ke bangsal, para perawat mengelilinginya sambil mengucap selamat dan senyum yang henti2nya ditunjukkan ke hadapan pasien, senyum ketulusan atas kehidupan yang memang harus selalu disyukuri. Senyum takjub karna keajaiban memang selalu ada di ICU, dan di ICU pula aku belajar untuk menghargai sekecil apapun harapan yang ada. Di ICU aku belajar untuk selalu menyalakan harapan, seperti setiap keluarga pasien yang terus berharap akan kesembuhan keluarga yang dicintainya.

 

^_______________^

 

Luar biasa bukan teman,

Jangan pernah berhenti berharap, karna harapan itu masih ada dan akan terus ada bagi insan2 yang percaya pada jalan terbaik yang pasti diberikan-Nya pada tiap hamba2-Nya…

Lakukan yang terbaik yang kita bisa..

Berikan yang terbaik yang bisa kita berikan..

Karna yakinlah di luar sana puluhan keluarga pasien sedang menumpukan harapan pada kita, sebuah ikhtiar untuk mendapatkan keputusan tertinggi dari Allah.

Yahh…ikhtiar, lalu tawakal ^^

 

Shin, jadi perawat pinter yang sholih ya, yang ber-amar ma’ruf nahi munkar, yang care ma pasien, yang tulus, jadikan aktivitasmu sebagai perawat adalah bagian dari ibadahmu pada Allah. Amin ^^

 

(sebuah memoar pengingat diri)

 

Hah! semanga99x!!!! ^____________________